Rasulpun senang bermain dengan anak
Usman Bin Madh’un menghadap Rasulullah saw. dengan membawa anak kecilnya. Rasulullah saw. bertanya, “Ini anakmu?”, “benar yaa Rasulullah”. “Kamu mencintainya, ya Usman”, “sungguh, demi Allah, saya mencintainya ya Rasulullah”. “Mau kubuat cintamu bertambah kepadanya?”, “mau ya Rasulullah”. Kemudian Rasulullah bersabda. “Barang siapa menyenangkan hati anak keturunannya sehingga menjadi senang. Allah akan membuatnya merasa senang sehingga diakhirat ia benar-benar akan merasa senang” (HR. Ibnu Asakir)
Rasulullah adalah pendidik yang hebat, sangat faham psikologi anak, faham bagaimana cara orang tua mencintai anak dan bagaimana cara agar anak dapat mencintai orang tuanya. Diapun tahu bagaimana membahagiaan dan menyenangkan anak, dengan sambutan hangat, mencium kening, memeluknya dan bermain besamanya.
Kita tentu faham, bahwa senang dan gembira adalah kebutuhan fitrah manusia, demikian halnya pada anak. Sifat ini sangat lekat dengan prilaku kehidupannya sebagai dunia bermain, tentu dengan membantu pada tahapan – tahapan tugas perkembangan dalam ilmu Psikologi sangat besar nilainya untuk menumbuhkan sikap keteladanan sehingga pada akhirnya menjadi sebuah karakter, selain itu dapat memotivasi jiwa untuk menggali potensi dan kreativitas anak. Ketika Rasulullah bersama anak-anak maka terlihat betapa cinta, sayang dan dekatnya dengan anak. Salah satu bentuknya adalah dilakukan dengan menemani anak bermain dan berprilaku seperti layaknya anak-anak. Dengan sikap demikian maka anak-anak pun sangat mencintai dan menyayangi Rasulullah. Dalam ilmu Psikologi kita mengenal teori lekat. Dengan pola permainan yang diterapkan oleh Rasulullah betapa beliau sangat menjiwai dan sangat berempati pada perasaan anak – anak tersebut, dan memang begitulah seharusnya yang mesti dilakukan dan untuk masa kini tentu masih sangat relevan untuk diteladani dan diikuti bagi para Pendidik yang peduli pada anak – anak
Bagi orang dewasa bermain hanya sekedar mengisi waktu senggang, tetapi bagi anak bermain sangat penting. Karena dengan bermain anak akan menumbuhkan semangat hidup, kecerdasan dan kreativitas. Agar kita bermain bersama anak dapat memiliki manfaat positif dan bermakna berikut beberapa kisah yang pernah dilakoni Rasulullah dan yang lainnya.
1. Senang bercanda
Dengan bermain bersama anak seperti dengan canda dan gurauan membantu anak melahirkan potensi yang terpendam. Betapa pentingnya bermain, sehingga Rasulullah saw. bersabda; “Barang siapa punya anak kecil hendaknya diajak bersenda gurau”. (HR. Ibnu Asakir).
Rasulullah pun sering bermain dan bercanda dengan cucunya Hasan dan Husain. Abdillah Ibnu Syaddad berkata, Tatkala Rasulullah shalat bersama para sahabat, tiba-tiba datang Husain dan naik di punggung beliau ketika sedang sujud. Maka Nabi saw. memanjangkan sujudnya, sehingga para sahabat mengira telah terjadi saesuatu. Ketika selesai shalat, mereka bertanya, Ya Rasulullah, engkau tadi telah memanjangkan sujud, dan kami mengira telah terjadi sesuatu ? “ Maka Rasulullah menjawab, Tadi cucuku Husain sedang menaiki punggungku dan saya tidak ingin mengejutkannya sehingga merasa puas dengan perbuatannya”.
2. Memberi kesempatan bermain;
Aktivitas keseharian pada usia masih balita atau anak – anak tak pernah lepas dari keceriaan dan kegembiraan, apapun yang dilakukannya selalu diekspresikan dengan bermain, baik ketika makan, mandi, termasuk belajar dan lainnya. Oleh karenanya ketika Rasulullah banyak melihat beragam permainan anak dan sering tidak bermain. Seperti cerita Ummu Kholid binti Kholid bin Said; Waktu itu saya memakai baju warna kuning, melihat itu Rasulullah berkata ‘cantik-cantik’. Saya terus bermain dengan cincin kenabian Rasulullah saw. Dan ayah saya melarangku, tetapi Rasulullah bersabda, ‘biarkan saja’ (HR. Bohari).
Memberi kesembatan anak bermain dalam koridor yang tidak membahayakan akan membuat anak berkembang imajinasinya. Alat permainan yang diberikan tidak selamanya dari yang mahal dan baru, barang-barang bekaspun dapat dimanfaatkan untuk bermain.
3. Memilih teman bermain.
Disamping orang tua harus senantiasa menemani anaknya bermain, anak pun harus berteman dengan yang sebaya. Rasulullah saw. pernah melihat sekelompok anak bermain dan beliau membiarkan mereka dan bahkan memotivasi mereka membangun kebersamaan dan tetap mengawasi permainanya. Walaupun berteman akan mengembangkan kecerdasaran sosialnya, namun hendaknya anak dijaga dan diawasi dari pergaulan yang berdampak negatif pada dirinya.
4. Bermain cara belajar yang baik.
Dari permainan yang dilakukan, orang akan mudah menilai bakat dan potensi anak. Bila seorang anak memiliki kecendrungan pada suatu permainan maka kita arahkan dia mengembangkannya agar potensinya tergali dan kecerdasannya berkembang. Menurut Ayah Edy ‘ Sesungguhnya cara belajar yang terbaik bagi anak adalah sambil bermain. Dengan permainan yang mereka buat disetiap pelajaran, anak akan senang belajar karena dia tidak sadar jika sesungguhnya dia sedang beklajar”. Kalau anak sudah happy, 90 % pelajaran dapat diserap.
Itulah sedikit tentang pentingya dalam mendidik anak dengan menyenangkan kita harus selalu mencontoh Rasulullas SAW. Semoga kita termasuk golongan umat yang dicintai, sehingga beliau berkenan memberikan syafaatnya amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Give comments and criticism are best for this blog the better